Mother’s day dalam Islam

Tanggal 22 Desember …hari Ibu.., terkenang kita akan Ibu kita. Kelembutannya..kebaikannya..peluhnya..capenya beliau mengurus kita, mendidik dan mendo’akn kita..
Islam, tanpa mengenal hari tertentu, mewajibkan setiap anak selalu mengistimewakan seorang Ibu. Mungkin kita tidak pernah menyadari, begitu banyak yang telah dilakukan oleh Ibu. Ibu mengandung kita selama 9 bulan, jihad berjuang melawan rasa sakit ketika melahirkan, mengesampingkan waktu istirahatnya untuk menyusui, juga merawat ketika kita sehat apalagi saat sakit, dan banyak lagi hal lainnya yang mustahil dapat kita hitung dan kita balas seluruh pengorbanannya. Ibu selalu berjuang untuk anak dan keluarganya. Alangkah mulianya seorang Ibu. Bahkan Rasulullãh pernah bersabda, ”seandainya kita diberi kemampuan membayar setiap tetes ASI, tidak akan ada seorang pun yang dapat melunasi jasa Ibu seumur hidup kita”. Untuk itu, Islam begitu mengistimewakan seorang Ibu, seperti yang banyak kita temui di dalam al-Quran, hadis, dan kisah-kisah teladan.

Allãh berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’,” (QS al-Isrã’ [17]: 23-24). Amin. Syurga ada di bawah telapak kaki ibu (Hadis).

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, “Wahai Nabi Allãh! Saya muda dan kuat, siap bertindak dan berbakti, dan ingin sekali pergi ke medan jihad untuk kemajuan Islam! Tetapi Ibu saya tidak membiarkan saya meninggalkannya untuk pergi berperang.” Nabi yang mulia bersabda, “Pergilah, tinggallah bersama Ibumu. Saya bersumpah kepada Tuhan yang memilih saya sebagai Nabi, bahwa pahala yang engkau dapatkan untuk melayaninya meskipun hanya semalam, dan membahagiakannya dengan kehadiranmu, jauh lebih besar daripada pahala perang jihad selama satu tahun.” Bayangkan ..berbakti terhadap ibu disamakan dengan berjihad di medan perang…subhanallah…

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, “Wahai Nabi Allãh! Tunjuki saya, kepada siapa saya mesti berbuat baik untuk mendapatkan manfaat yang sempurna atas amal kebajikan saya?” Beliau bersabda, “Berbuat baiklah kepada Ibumu.” Lelaki itu bertanya dua kali lagi, Beliau menjawab dua kali, ”Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi untuk yang keempat kalinya, ”Dan sesudah Beliau?” Nabi menjawab, “Kepada Ayahmu.” Ibu dan Ayah adalah 2 orang manunsia yang paling berjasa dalam kehidupan kita..sepantasnyalah kita berbakti pada mereka..

Dari sebuah kisah sufi, “Adalah hak Ibumu agar engkau mengingatnya bahwa beliau telah mengandungmu dalam rahimnya selama beberapa bulan. Memeliharamu dengan sari hidupnya. Mengerahkan semua yang ada padanya untuk memelihara dan melindungimu. Dia tidak memedulikan rasa laparnya, sedangkan engkau diberinya makan sepuas-puasnya. Dia mengalami rasa haus sementara dahagamu dipuaskan. Dia mungkin tak berpakaian layak, tapi engkau diberinya baju yang baik-baik. Dia mungkin berdiri di panas terik matahari, sementara engkau berteduh dalam bayangannya. Dia meninggalkan tidurnya yang enak demi tidurmu yang pulas. Dia melindungimu dari panas dan dingin. Dia menanggung semua kesusahan itu demi engkau! Maka engkau layak untuk mengetahui, bahwa engkau tak akan mampu bersyukur kepada Ibumu secara pantas, kecuali Allãh menolongmu dan memberikan keridaan untuk membalas akal-budinya.”

Dari kisah seorang alim-ulama. Seseorang berkata kepada orang yang Ibunya meninggal, “Tidak pantas engkau yang berkedudukan alim bersikap resah dan mengucurkan air mata, hanya karena kematian seorang perempuan tua.” Ulama besar itu mengangkat kepalanya dan menjawab, “Sepertinya engkau belum menyadari kedudukan mulia seorang Ibu. Saya berhutang budi atas kedudukan saya kepada pendidikan yang diberikan Ibu kepada saya, serta kerja kerasnya. Ibulah yang meletakkan dasar kemajuan saya, mengantarkan saya kepada kedudukan akhlak sebagai ulama seperti sekarang ini.”

Seorang pemuda sakit parah. Nabi pergi menjenguknya. Pemuda itu tampak kepayahan. Nabi berkata kepadanya, “Akuilah keesaan Allãh dan ucapkan kalimat syahadat: Lã ilãha illallãh!” Tapi, pemuda itu tidak dapat mengucapkannya. Kemudian Nabi bertanya kepada seorang perempuan yang hadir, “Apakah dia mempunyai Ibu?” Perempuan itu menjawab, “Ya. Saya adalah Ibunya.” Nabi bertanya lagi, “Apakah engkau tidak rela kepadanya?” Perempuan itu mengiyakan, “Ya. Saya tidak rukun dengan dia selama enam tahun!” Nabi meminta perempuan itu memaafkan kesalahan putranya. Perempuan itu berujar, “Wahai Nabi Allãh! Saya akan melakukannya demi engkau.” Kemudian Nabi menoleh kepada pemuda itu sambil berkata, “Sekarang ucapkanlah Lã ilãha illallãh!” Pemuda itu dengan lancar dapat mengucapkannya.

2 Responses

  1. Tulisan tidak diragukan blog luar biasa bagi dong ilmunya

  2. syukron bunda….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: